Muaro Paiti, 7 Juni 2026 – Tradisi Khatam Al-Qur'an yang telah diwariskan turun-temurun di Nagari Muaro Paiti kembali berlangsung dengan penuh khidmat dan kemeriahan. Kegiatan yang menjadi wujud nyata falsafah Minangkabau "Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah" ini mempertemukan seluruh TPQ se-Nagari Muaro Paiti dalam Khatam Al-Qur'an Gabungan yang dipusatkan di Masjid Baitul Ikhlas Nagari Muaro Paiti.
Sebanyak 60 orang santri dan santriwati mengikuti kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini. Kesuksesan acara tidak terlepas dari semangat gotong royong yang ditunjukkan oleh para orang tua santri sebagai panitia, dibantu guru-guru TPQ serta masyarakat Nagari Muaro Paiti yang bahu-membahu mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.
Rangkaian acara dimulai pada Jumat, 5 Juni 2026, dengan pawai khatam yang dibuka secara resmi oleh Sekretaris Nagari Muaro Paiti, Zandra Makapur, ST. Para peserta tampil anggun dan rapi mengenakan pakaian serba putih, berjalan dengan penuh kebanggaan sambil dipayungi oleh ibu dan orang tua masing-masing. Pemandangan tersebut menjadi simbol kasih sayang, doa, dan harapan orang tua terhadap masa depan anak-anak mereka sebagai generasi penerus yang berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur'an.
Malam harinya, masyarakat disuguhkan dengan penampilan kesenian tradisional Oguang, sebuah tradisi yang telah lama melekat dalam setiap alek nagari. Bunyi Oguang yang menggema menjadi pertanda sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk berkumpul dan bersama-sama menghadiri kegiatan Badua (Mendo'a).
Selain Oguang, malam menjelang khatam juga diisi dengan tradisi Badikia, yaitu melantunkan selawat dan syair-syair yang menceritakan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW mulai dari kelahiran hingga wafat beliau. Lantunan merdu para Pandikia yang berlangsung hingga larut malam menciptakan suasana religius yang begitu menyentuh hati.
Keunikan tradisi ini semakin terasa dengan hadirnya suguhan khas berupa "Bungkui Bokat", yaitu puluik (nasi pulut) yang dibungkus daun pisang, serta "Sarobat", minuman rebusan rempah-rempah tradisional yang berfungsi menghangatkan tubuh dan menjaga suara para Pandikia tetap nyaring selama melantunkan syair dan selawat. Suasana hangat penuh kekeluargaan terlihat jelas ketika generasi muda hingga para orang tua berkumpul bersama di masjid mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
Puncak acara berlangsung pada Minggu, 7 Juni 2026. Para peserta khatam secara bergantian memperdengarkan bacaan Al-Qur'an di atas mimbar yang telah dihias dengan indah. Momentum ini menjadi bukti keberhasilan pendidikan Al-Qur'an yang selama ini dijalankan oleh TPQ di Nagari Muaro Paiti.
Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati Kabupaten Lima Puluh Kota, Ahlul Badrito Resha, SH., yang memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan khatam Al-Qur'an tersebut. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki misi utama untuk memantapkan kehidupan masyarakat yang berakhlak dan berbudaya.
"Suara anak-anak harus selalu terdengar di masjid. Kegiatan seperti ini merupakan investasi besar dalam membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan mencintai Al-Qur'an," ujarnya.
Hadir pula Anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota, Andri Jonpito, yang ikut memberikan dukungan terhadap pelestarian tradisi keagamaan dan budaya di tengah masyarakat.
Sementara itu, Wali Nagari Muaro Paiti, Rajab, SH. Dt. Bosa., dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur karena tradisi khatam Al-Qur'an yang diwariskan oleh para pendahulu masih tetap terjaga hingga saat ini. Beliau berpesan kepada seluruh peserta bahwa khatam Al-Qur'an bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk semakin meningkatkan kecintaan dan intensitas membaca Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.
"Setelah khatam ini bukan berarti berhenti mengaji. Justru inilah langkah awal untuk lebih dekat dengan Al-Qur'an dan menjadikannya pedoman hidup," pesannya.
Salah satu prosesi yang paling dinantikan masyarakat adalah pemberian gelar adat kepada peserta laki-laki oleh Ninik Mamak dari pasukuan masing-masing. Gelar tersebut diumumkan langsung dari mimbar masjid di hadapan seluruh hadirin sebagai bentuk penghargaan sekaligus pengingat akan tanggung jawab mereka dalam menjaga marwah adat dan agama.
Sebagai penutup, dilaksanakan tradisi Manjalang Guru, yaitu kunjungan dan penghormatan kepada ustaz serta ustazah yang telah mendidik para santri hingga mampu menyelesaikan bacaan Al-Qur'an. Tradisi ini menjadi simbol penghargaan terhadap jasa para guru yang telah dengan ikhlas menanamkan ilmu dan nilai-nilai agama kepada generasi muda.
Komitmen Pemerintah Nagari Muaro Paiti dalam menjaga dan melestarikan tradisi ini juga terlihat nyata melalui penganggaran bantuan dana kegiatan khatam Al-Qur'an dalam APB Nagari setiap tahunnya. Dukungan tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian nilai adat, budaya, dan agama merupakan tanggung jawab bersama demi melahirkan generasi Qurani yang berakhlak mulia.
Khatam Al-Qur'an Nagari Muaro Paiti Tahun 2026 bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi cermin kuatnya persatuan masyarakat, hidupnya budaya gotong royong, serta kokohnya nilai Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kemajuan akan semakin bermakna apabila dibangun di atas fondasi iman, ilmu, adat, dan budaya yang kokoh.